Suasana pagi Kota Bogor menyeruak membuat Ina menarik
selimutnya untuk kembali tidur. Ia masih enggan beranjak dari kasur bergambar
hello kitty kesayangannya. Walaupun ia sudah berusia 18 tahun, ia masih suka
mengumpulkan barang-barang bergambar hello kitty. Ina tinggal bersama ayah dan
ibunya. Ina adalah anak tunggal. Namun, ia tak pernah merasa kesepian karena ia
memiliki teman bernama Evan. Evan sahabatnya dari kecil. Keluarga Ina kenal
dekat dengan keluarga Evan. Ina dan Evan selalu bersama, sepanjang waktu Ina
bermain bersama Evan.
“Inaaa.. Inaa..” suara setengah berat membuat Ina
meninggalkan kasur hello kitty dan berlari keluar rumah.
“Eh Evan, Mau kemana pagi-pagi?” tanya Ina sambil
mengernyitkan dahi.
“Udahhh ikut aku aja,” ajak Evan.
Mereka pergi untuk bermain bersama. Biasanya Ina dan Evan saling berbagi cerita. Kisah
dari ujung dunia pun mereka ceritakan. Hal apa pun yang terjadi pasti di
ceritakan berdua. Namun ada satu hal yang tak Ina ceritakan, perasaan Ina
kepada Evan.
Pagi itu mereka pergi ke suatu tempat. Menikmati Indahnya
alam. Berjalan-jalan melewati kebun teh. Sampai sore pun tiba. Sore itu
mendorong Ina untuk menanyakan sesuatu kepada Evan.
“Van, kamu nggak lupa kan besok hari apa?”
“Besok hari Rabu kan?” jawab Evan tak punya dosa.
“Ahh.. kamu masa lupa,” jawab Ina kesal.
“Hehe iyaa aku inget kok, cie yang besok udah tambah tua,”
ledek Evan sambil nyengir kuda.
“Hmmm, aku akan mengadakan perayaan kecil di rumahku besok,
kamu datang ya?” ajak Ina.
“Pasti dong.” jawab Evan penuh kesungguhan.
“Siaaap!!”
“Yaudah ayo pulang, udah sore,” ajak Evan datar.
Tiba-tiba Ina pingsan, wajahnya kucam dan menjatuhkan
badannya begitu saja. Evan cemas, lalu membawanya ke rumah sakit. Hari mulai
petang, tapi Ina belum sadarkan diri. Dokter keluar setelah selesai memeriksa
Ina dan menemui Evan. Dokter menjelaskan penyakit Ina. Ina sakit parah, ia
mengalami kegagalan fungsi hati. Dokter bilang sulit untuk menemukan donor hati
untuk Ina. Evan terkejut mendengar penjelasan dokter. Ina memang sudah lama
sakit, namun tidak pernah menceritakannya kepada Evan.
Evan mengubungi keluarga Ina karena Ina sudah sadarkan diri.
Keluarga Evan pun datang untuk menjenguk Ina. Ina harus menginap dirumah sakit
karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk pulang.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar, gimana keadaaanmu?” tanya
Evan.
“Udah mendingan kok,” jawab Ina dengan mengembangkan bibir.
“Aku mau pergi dulu yaa, jaga dirimu baik-baik,” kata Evan
berpamitan dengan Ina.
“Mau kemana?” wajah Ina penuh tanya. Evan hanya tersenyum
lalu pergi.
Keesokan harinya adalah hari ulang tahun Ina yang ke 17. Ina
menunggu Evan dengan terbaring lemas. Namun, Evan tidak juga datang. Tiba tiba
Ina merasa pusing dan mual. Ibunya panik dan ayahnya segera memanggil dokter.
Dokter memberitahu kedua orang tua Ina kalau dokter telah
mendapatkan hati yang sesuai untuk Ina. Lalu keluarga Ina setuju untuk
melakukan operasi. Keluarga Evan pun berada di rumah sakit untuk mendoakan
keselamatan Ina.
Proses operasi berjalan dengan lancar. Ina sudah sadarkan
diri. Namun perasaan Ina tidak tenang, ketika ia sadar ia tidak melihat wajah
Evan. Kemana perginya Evan. Tega sekali Evan tidak menjenguk Ina. Mengucapkan
selamat ulang tahun pun tidak.
Sore itu, seorang Ibu dengan wajah tertutup kesedihan
memasuki kamar Ina yang sedang dirawat. Ternyata ibu itu adalah ibunya Evan.
Ibunya datang menuju Ina dan memeluk Ina. Ina sangat bingung, wajahnya penuh
tanya. Ibunya menatap mata Ina dalam-dalam lalu mengatakan sesuatu sehingga
wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Lemas tak berdaya.
Hingga kini, Ina belum bisa menerima yang sudah terjadi. Evan telah tiada.
" Evaaaaaaan!" Tiba-tiba ia seperti memanggil
sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. Ina
pingsan, tak kuat atas apa yang sedang dihadapinya.
Setelah Ina sadar, Riko datang kepada Ina dan menceritakan
semua yang telah terjadi.
“Waktu itu Evan membelikan kado untukmu di tokoku. Setelah
ke luar dari tokoku dan akan mengendarai motornya Evan tertabrak mobil. Kepala
Evan terbentur batu. Aku tersontak melihat Evan mengeluarkan banyak darah dari
kepalanya. Aku langsung membawa Evan ke rumah sakit. Saat perjalanan ke rumah
sakit, Evan menghembuskan nafas terakhir. Sebelum itu, Evan menyampaikan kata
terakhir kepadaku. “To..tolong jaga Ina, berikan kado ini untuk dia, dan
berikan hatiku untuk dia,” suara Evan terbata-bata,” kata Riko.
“Ini untukmu,” Riko
memberikan boneka hello kitty seukuran tubuhnya yang dibeli Evan sebagai kado
untuk Ina.
Kini Ina mengetahui perasaan Evan. Evan rela mendonorkan
hatinya untuk kesembuhan Ina. Dengan cara itu, Evan bisa tetap di hati Ina.
Begitulah cara Evan mencintai Ina.

Yaa ya, wah terlunar cerita sinetron, rupanya.
BalasHapushehee.. iya e pak, kebanyakan nonton sinetron india
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus