Rabu, 04 Januari 2017

UJIAN PRAKTIK BAHASA INDONESIA MENULIS CERPEN



Secepat Itu



Suasana pagi Kota Bogor menyeruak membuat Ina menarik selimutnya untuk kembali tidur. Ia masih enggan beranjak dari kasur bergambar hello kitty kesayangannya. Walaupun ia sudah berusia 18 tahun, ia masih suka mengumpulkan barang-barang bergambar hello kitty. Ina tinggal bersama ayah dan ibunya. Ina adalah anak tunggal. Namun, ia tak pernah merasa kesepian karena ia memiliki teman bernama Evan. Evan sahabatnya dari kecil. Keluarga Ina kenal dekat dengan keluarga Evan. Ina dan Evan selalu bersama, sepanjang waktu Ina bermain bersama Evan.
“Inaaa.. Inaa..” suara setengah berat membuat Ina meninggalkan kasur hello kitty dan berlari keluar rumah.
“Eh Evan, Mau kemana pagi-pagi?” tanya Ina sambil mengernyitkan dahi.
“Udahhh ikut aku aja,” ajak Evan.
Mereka pergi untuk bermain bersama. Biasanya  Ina dan Evan saling berbagi cerita. Kisah dari ujung dunia pun mereka ceritakan. Hal apa pun yang terjadi pasti di ceritakan berdua. Namun ada satu hal yang tak Ina ceritakan, perasaan Ina kepada Evan.
Pagi itu mereka pergi ke suatu tempat. Menikmati Indahnya alam. Berjalan-jalan melewati kebun teh. Sampai sore pun tiba. Sore itu mendorong Ina untuk menanyakan sesuatu kepada Evan.
“Van, kamu nggak lupa kan besok hari apa?”
“Besok hari Rabu kan?” jawab Evan tak punya dosa.
“Ahh.. kamu masa lupa,” jawab Ina kesal.
“Hehe iyaa aku inget kok, cie yang besok udah tambah tua,” ledek Evan sambil nyengir kuda.
“Hmmm, aku akan mengadakan perayaan kecil di rumahku besok, kamu datang ya?” ajak Ina.
“Pasti dong.” jawab Evan penuh kesungguhan.
“Siaaap!!”
“Yaudah ayo pulang, udah sore,” ajak Evan datar.
Tiba-tiba Ina pingsan, wajahnya kucam dan menjatuhkan badannya begitu saja. Evan cemas, lalu membawanya ke rumah sakit. Hari mulai petang, tapi Ina belum sadarkan diri. Dokter keluar setelah selesai memeriksa Ina dan menemui Evan. Dokter menjelaskan penyakit Ina. Ina sakit parah, ia mengalami kegagalan fungsi hati. Dokter bilang sulit untuk menemukan donor hati untuk Ina. Evan terkejut mendengar penjelasan dokter. Ina memang sudah lama sakit, namun tidak pernah menceritakannya kepada Evan.
Evan mengubungi keluarga Ina karena Ina sudah sadarkan diri. Keluarga Evan pun datang untuk menjenguk Ina. Ina harus menginap dirumah sakit karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk pulang.
“Alhamdulillah kamu sudah sadar, gimana keadaaanmu?” tanya Evan.
“Udah mendingan kok,” jawab Ina dengan mengembangkan bibir.
“Aku mau pergi dulu yaa, jaga dirimu baik-baik,” kata Evan berpamitan dengan Ina.
“Mau kemana?” wajah Ina penuh tanya. Evan hanya tersenyum lalu pergi.
Keesokan harinya adalah hari ulang tahun Ina yang ke 17. Ina menunggu Evan dengan terbaring lemas. Namun, Evan tidak juga datang. Tiba tiba Ina merasa pusing dan mual. Ibunya panik dan ayahnya segera memanggil dokter.
Dokter memberitahu kedua orang tua Ina kalau dokter telah mendapatkan hati yang sesuai untuk Ina. Lalu keluarga Ina setuju untuk melakukan operasi. Keluarga Evan pun berada di rumah sakit untuk mendoakan keselamatan Ina.
Proses operasi berjalan dengan lancar. Ina sudah sadarkan diri. Namun perasaan Ina tidak tenang, ketika ia sadar ia tidak melihat wajah Evan. Kemana perginya Evan. Tega sekali Evan tidak menjenguk Ina. Mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak.
Sore itu, seorang Ibu dengan wajah tertutup kesedihan memasuki kamar Ina yang sedang dirawat. Ternyata ibu itu adalah ibunya Evan. Ibunya datang menuju Ina dan memeluk Ina. Ina sangat bingung, wajahnya penuh tanya. Ibunya menatap mata Ina dalam-dalam lalu mengatakan sesuatu sehingga wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Lemas tak berdaya. Hingga kini, Ina belum bisa menerima yang sudah terjadi. Evan telah tiada.
" Evaaaaaaan!" Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. Ina pingsan, tak kuat atas apa yang sedang dihadapinya.
Setelah Ina sadar, Riko datang kepada Ina dan menceritakan semua yang telah terjadi.
“Waktu itu Evan membelikan kado untukmu di tokoku. Setelah ke luar dari tokoku dan akan mengendarai motornya Evan tertabrak mobil. Kepala Evan terbentur batu. Aku tersontak melihat Evan mengeluarkan banyak darah dari kepalanya. Aku langsung membawa Evan ke rumah sakit. Saat perjalanan ke rumah sakit, Evan menghembuskan nafas terakhir. Sebelum itu, Evan menyampaikan kata terakhir kepadaku. “To..tolong jaga Ina, berikan kado ini untuk dia, dan berikan hatiku untuk dia,” suara Evan terbata-bata,” kata Riko.
 “Ini untukmu,” Riko memberikan boneka hello kitty seukuran tubuhnya yang dibeli Evan sebagai kado untuk Ina.
Kini Ina mengetahui perasaan Evan. Evan rela mendonorkan hatinya untuk kesembuhan Ina. Dengan cara itu, Evan bisa tetap di hati Ina. Begitulah cara Evan mencintai Ina.