Jumat, 21 Oktober 2016

Teks Sejarah



Kegigihan Agus Triyanto


Agus Triyanto atau sering dipanggil Agus. Lahir di Temanggung, 9 September 1978. Ia merupakan dua bersaudara dari Sisjongko dan Sulami. Sejak kecil ia dibesarkan di Desa Jengkiling, Kandangan, Temanggung bersama kakak kandungnya yang bernama Heri Sutamto.
            Agus menempuh pendidikan di SD Karangsari sampai lulus dan melanjutkan di SMP 1 Kandangan. Setiap hari ia berangkat menggunakan angkutan umum. Namun jika tidak ada uang yang tersisa saat pulang sekolah, ia pulang dengan berjalan kaki sekitar 2 km bersama teman-temannya. Agus hidup dalam keadaan yang sederhana. Ia tak pernah menuntut apapun kepada orang tuanya. Jika sepatu belum usang dan jempol kaki belum terlihat keluar dari sepatu, orangtuanya belum akan membelikan sepatu untuknya. Sepulang sekolah ia biasanya membantu ayahnya membuat jenang untuk di jual ke desa-desa. Terkadang ia juga membantu ayahnya di sawah dan mencari rumput untuk makan kambing.
            Agus lulus SMP pada tahun 1992, tetapi ia tidak melanjutkan pendidikan selanjutnya karena keadaan orang tua yang tidak sanggup untuk menyekolahkannya lagi. Agus memutuskan mencari kerja untuk membantu kedua orang tuanya. Ia bekerja di furnitur untuk membuat peralatan rumah tangga bersama dengan kakaknya. Namun, karena tidak nyaman dengan pekerjaaannya ia keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru. Lalu ia bekerja di pabrik kayu. Belum lama bekerja, ia merasa tidak cocok dengan pekerjaannya karena sangat menguras banyak tenaga dan hanya mempunyai waktu istirahat yang singkat lalu memutuskan keluar dari pekerjaan pabrik itu.
            Agus terus mencari pekerjaan dan akhirnya bekerja di bengkel cat Pak Rahmat. Bemgkel itu melayani jasa pengecatan dan las kendaraan. Agus bekerja di bengkel Pak Rahmat bersama kakaknya selama 7 tahun. Agus menabung dari sedikit demi sedikit untuk mendirikan usaha sendiri.  Setelah uangnya terkumpul ia membeli peralatan-peralatan untuk mengecat dan ia mendirikan bengkel cat sendiri. Ia menekuni dan mengembangkan usaha bengkel catnya setelah ia berhenti dari bengkel Pak Rahmat.
Agus pun mencari nafkah tambahan dengan cara memnyalurkan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya yaitu melukis. Ia melukis jika ada pesanan dari orang lain. Pada saat itu lukisan belum diminati oleh banyak orang dan harga jualnya masih rendah. Orang yang memesan lukisannya biasanya teman-teman dekatnya atau orang disekitarnya. Namun Agus tetap bersemangat untuk menajalani hidupnya.
Pada tahun 1997, Agus menikah dengan adik kelas ketika ia duduk di bangku SMP yang bernama Latifatun Siriyah. Setelah menikah 1 tahun ia dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Nava Yansi Anggraeni. Lalu anak kedua bernama Muhammad Zulfikar yang memiliki selisih 10 tahun dengan anak pertamanya. Hingga kini usaha bengkel catnya masih tetap berdiri sehingga dapat menyekolahkan putrinya sampai ke jenjang SMA kelas 3 di SMAN 2 Magelang dan putranya bersekolah di SDN Kramat 1 kelas 2.

2 komentar:

  1. OK, terima kasih. Ayo semangat belajar, hargai kerja keras orang tua Anda.

    BalasHapus
  2. ssiiiiiaaaaapppp ppaakkkk!! :D

    BalasHapus