Kegigihan Agus Triyanto
Agus
Triyanto atau sering dipanggil Agus. Lahir di Temanggung, 9 September 1978. Ia
merupakan dua bersaudara dari Sisjongko dan Sulami. Sejak kecil ia dibesarkan
di Desa Jengkiling, Kandangan, Temanggung bersama kakak kandungnya yang bernama Heri Sutamto.
Agus menempuh pendidikan di SD
Karangsari sampai lulus dan melanjutkan di SMP 1 Kandangan. Setiap hari ia
berangkat menggunakan angkutan umum. Namun jika tidak ada uang yang tersisa
saat pulang sekolah, ia pulang dengan berjalan kaki sekitar 2 km bersama
teman-temannya. Agus hidup dalam keadaan yang sederhana. Ia tak pernah menuntut
apapun kepada orang tuanya. Jika sepatu belum usang dan jempol kaki belum
terlihat keluar dari sepatu, orangtuanya belum akan membelikan sepatu untuknya.
Sepulang sekolah ia biasanya membantu ayahnya membuat jenang untuk di jual ke
desa-desa. Terkadang ia juga membantu ayahnya di sawah dan mencari rumput untuk
makan kambing.
Agus lulus SMP pada tahun
1992, tetapi ia tidak melanjutkan pendidikan selanjutnya karena keadaan orang
tua yang tidak sanggup untuk menyekolahkannya lagi. Agus memutuskan mencari
kerja untuk membantu kedua orang tuanya. Ia bekerja di furnitur untuk membuat
peralatan rumah tangga bersama dengan kakaknya. Namun, karena tidak nyaman
dengan pekerjaaannya ia keluar dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan baru.
Lalu ia bekerja di pabrik kayu. Belum lama bekerja, ia merasa tidak cocok
dengan pekerjaannya karena sangat menguras banyak tenaga dan hanya mempunyai
waktu istirahat yang singkat lalu memutuskan keluar dari pekerjaan pabrik itu.
Agus terus mencari
pekerjaan dan akhirnya bekerja di bengkel cat Pak Rahmat. Bemgkel itu melayani jasa
pengecatan dan las kendaraan. Agus bekerja di bengkel Pak Rahmat bersama
kakaknya selama 7 tahun. Agus menabung dari sedikit demi sedikit untuk
mendirikan usaha sendiri. Setelah
uangnya terkumpul ia membeli peralatan-peralatan untuk mengecat dan ia
mendirikan bengkel cat sendiri. Ia menekuni dan mengembangkan usaha bengkel
catnya setelah ia berhenti dari bengkel Pak Rahmat.
Agus
pun mencari nafkah tambahan dengan cara memnyalurkan dan mengembangkan bakat
yang dimilikinya yaitu melukis. Ia melukis jika ada pesanan dari orang lain.
Pada saat itu lukisan belum diminati oleh banyak orang dan harga jualnya masih
rendah. Orang yang memesan lukisannya biasanya teman-teman dekatnya atau orang
disekitarnya. Namun Agus tetap bersemangat untuk menajalani hidupnya.
Pada
tahun 1997, Agus menikah dengan adik kelas ketika ia duduk di bangku SMP yang bernama
Latifatun Siriyah. Setelah menikah 1 tahun ia dikaruniai anak perempuan yang
diberi nama Nava Yansi Anggraeni. Lalu anak kedua bernama Muhammad Zulfikar
yang memiliki selisih 10 tahun dengan anak pertamanya. Hingga kini usaha
bengkel catnya masih tetap berdiri sehingga dapat menyekolahkan putrinya sampai
ke jenjang SMA kelas 3 di SMAN 2 Magelang dan putranya bersekolah di SDN Kramat
1 kelas 2.

OK, terima kasih. Ayo semangat belajar, hargai kerja keras orang tua Anda.
BalasHapusssiiiiiaaaaapppp ppaakkkk!! :D
BalasHapus